Tahun ini, SMAIT BBS Bogor menggelar Festival Dongdang yang menjadi wadah bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mempererat kebersamaan, dalam memeriahkan Maulid Nabi.
Festival tersebut tidak sekadar menjadi perlombaan membuat dongdang. Kegiatan ini juga dirancang sebagai sarana edukasi untuk menumbuhkan kecintaan siswa SMAIT BBS Bogor kepada Rasulullah SAW.
Sekaligus mengenalkan kembali tradisi masyarakat dalam suasana yang menyenangkan.
Dongdang Berhias Camilan
Setiap kelas mendapat tantangan untuk membuat dongdang dengan konsep yang unik dan menarik. Berbagai makanan ringan seperti permen, wafer, cokelat, biskuit, serta aneka camilan lainnya disusun dan dihias menjadi bagian dari karya masing-masing kelas.
Menariknya, banyak siswa memilih bentuk masjid sebagai konsep utama dongdang. Beberapa di antaranya terinspirasi dari masjid terkenal di Indonesia, seperti Masjid Istiqlal dan masjid berkubah emas, hingga masjid yang berada di luar negeri, seperti Masjid Nabawi dan Hagia Sophia di Turki.
Karya-karya tersebut kemudian dikreasikan dengan berbagai bahan dan makanan ringan sehingga menghasilkan dongdang yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menunjukkan kreativitas siswa.
Ada Poster dan Maskot Pahlawan Muslim
Kreativitas peserta tidak berhenti pada pembuatan dongdang. Setiap kelas juga diwajibkan menyiapkan poster dan maskot yang sesuai dengan tema yang diusung.
Poster digunakan untuk memperkuat pesan dari konsep masing-masing kelas. Sementara itu, maskot menjadi representasi tokoh yang dipilih siswa dan dipresentasikan oleh perwakilan kelas di hadapan juri.
Sejumlah pahlawan Muslim turut diangkat sebagai maskot, di antaranya Cut Nyak Dien dan Teuku Umar.
Pemilihan tokoh tersebut membuat siswa tidak hanya dituntut menghasilkan tampilan yang menarik, tetapi juga mempelajari sejarah, perjuangan, dan keteladanan dari tokoh yang mereka tampilkan.
Kreativitas dan Kekompakan Jadi Penilaian
Salah satu juri Festival Dongdang, Tito A.D., mengatakan terdapat beberapa aspek yang menjadi perhatian dalam proses penjurian.
“Penilaian meliputi kreativitas atau keunikan dalam pembuatan dongdang, kekompakan atau kerja sama antarsiswa, serta kemampuan presentasi perwakilan kelas mengenai tokoh yang disajikan sebagai maskot,” ungkapnya.
Dengan kriteria tersebut, penilaian tidak hanya melihat hasil akhir dongdang. Proses kerja sama hingga kemampuan siswa dalam menyampaikan gagasan juga menjadi bagian penting dalam menentukan penilaian.
Antusiasme siswa pun terlihat sejak tahap persiapan. Mereka membagi tugas mulai dari merancang konsep, menyiapkan bahan, menghias dongdang, membuat poster, menyiapkan kostum, hingga menyusun materi presentasi maskot.
Suasana semakin semarak ketika setiap kelas menampilkan karya terbaik mereka di hadapan warga sekolah.
Melalui Festival Dongdang, SMAIT BBS Bogor berharap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi siswa.
Kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, semangat persatuan, kreativitas, kerja sama, serta keteladanan dari para tokoh Muslim dan pahlawan bangsa.
Festival tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai keislaman dapat dikenalkan kepada siswa melalui kegiatan positif yang kreatif, edukatif, dan penuh kebersamaan.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga
Sumber : radarbogor.jawapos.com
